Laguna Trip Blog Edition

Asia

Hanoi, Pintu Gerbang Vietnam Utara

November 26, 2012 by Vieta in Asia, Journal, Random with 0 Comments

[google-translator]
Pada tahun 2012 ini saya memiliki kesempatan dua kali melakukan perjalanan di kawasan Vietnam Utara. Dari sekian ragam tempat di kawasan itu, terbanyak cerita yang saya dengar adalah tentang ‘party cruise’ di Halong Bay atau pengalaman trekking dan berjumpa suku H’mong di Sapa. Sedikit sekali saya mendengar cerita dari orang yang saya temui di jalan mengenai kota Hanoi. Padahal pintu gerbang di kawasan utara pada umumnya adalah melalui kota tersebut.

Hanoi menjadi salah satu highlight dari perjalanan yang pernah saya lakukan di Asia Tenggara. Kota ini dulunya adalah ibukota dari Vietnam Utara pada masa perang dan masih ditetapkan sebagai ibukota negara pada masa sekarang. Tapi tingkat kepadatan penduduk dan perkembangan perekonomiannya masih di bawah Ho Chi Minh City, mungkin karena itulah banyak yang menyangka Ho Chi Minh City adalah ibukota negara Vietnam. Landscape kota dan gaya orang-orangnya dalam berpakaian cukup beda dengan penduduk Vietnam di bagian selatan, terutama ketika musim dingin. Hal ini juga jadi salah satu keunikan negara Vietnam, karena di bagian selatan iklimnya cenderung lebih tropis, hampir mirip dengan Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara pada umumnya. Sedangkan di utara, iklim hampir sama seperti negara Cina. Bahkan kita masih dapat menjumpai salju di kota Sapa ketika musim dingin.

Suhu cuaca ketika saya datang pada Januari-Februari di kota Hanoi adalah sekitar 12-15ºC dan 24ºC di bulan Agustus. Kota ini besar, bermobilitas cepat dan penuh kehidupan. Kendaraan terutama motor berlalu-lalang dan tidak henti-hentinya si pengendara membunyikan klakson, trotoar untuk pejalan kaki kurang tersedia dan jika tidak hati-hati, menjadi korban scam itu sangat mungkin terjadi. Iya, untuk mengunjungi sebuah negara bekas komunis yang mayoritas penduduknya tidak bisa berbahasa Inggris ini memang butuh kesiapan mental yang khusus. Tapi di sisi lain dari segala kekacauan yang ada di Hanoi, kota ini adalah kota ter-loveable yang pernah saya kunjungi. Harus ada alasan yang kuat buat mengunjungi tempat ini dua kali dalam setahun kan?

Hanoi memiliki sembilan distrik dan yang menjadi pusat turis sekaligus tempat paling menarik dari kota ini adalah Old Quarter District dan Hoan Kiem District. Bangunan-bangunan di dua kawasan ini pada umumnya masih dipertahankan bentuk aslinya sejak masa koloni Perancis sebelum Vietnam merdeka. Di Hoan Kiem District terdapat sebuah danau besar yang menjadi landmark kota Hanoi bernama Hoan Kiem. Di tengah danau ini terdapat Menara Turtle dan kuil Ngoc Son yang memiliki sebuah jembatan merah bernama The Huc yang sangat remarkable. Bentuk kuil di Vietnam cenderung berbeda dari kuil-kuil yang saya kunjungi di Thailand, Laos, atau Kamboja. Dan danau Hoan Kiem ini, baik pada musim dingin ataupun panas, menjadi pusat kegiatan masyarakat setempat mulai dari nongkrong, foto pre-wed hingga olahraga.

Di sekitar danau terdapat sebuah monumen untuk mengenang Ly Thai To, seorang tokoh yang diagungkan oleh masyarakat Vietnam dan sebuah gereja tua dengan struktur bangunan yang indah bernama Regina Pacis. Berdasarkan informasi dari seorang teman Vietnam saya, Katholik menjadi salah satu agama yang mulai populer di Vietnam. Di sekitar kawasan ini juga banyak dijumpai kafe-kafe pinggir jalan dengan kursi jongkoknya yang khas. Belum pernah ke kota Hanoi kalau belum mencoba nongkrong di salah satu kafe-kafe itu sambil minum kopi atau lemon tea dan ngemil kuaci.

Kesimpulannya, berdasarkan pengalaman saya sebagai female traveler yang suka keluyuran jam berapapun sendirian, kota ini aman (selama tetap berhati-hati).

Masuk ke distrik Old Quarter, kegiatan yang wajib dilakukan adalah berziarah ke Ho Chi Minh Mausoleum. Tempat pembalsaman jenazah Uncle Ho ini terletak di kawasan Ho Chi Minh Palace yang juga terdapat rumah peristirahatan dan museum barang-barang peninggalan beliau. Cukup banyak aturan yang harus dipatuhi untuk mengunjungi Mausoleum, terutama masalah berpakaian. Pengunjung harus menggunakan baju berlengan dan panjang bawahan harus di bawah lutut. Dan karena tempat ini tidak memungut biaya masuk (kecuali museum), jam bukanya sangat terbatas, yaitu dari jam 07.00-10.30. Jadi siap-siap jangan males bangun pagi. Saya sedikit kurang yakin sebenarnya, tapi jenazah yang diletakkan di tengah Mausoleum konon adalah tubuh asli dari Uncle Ho. Efek injeksi formalin yang rutin dilakukan membuat badan beliau terlihat lebih gemuk dari fotonya yang ada di museum. Tapi terlepas asli atau bukan, mengunjungi tempat ini cukup bikin saya takjub sama cara masyarakat Vietnam mengenang bapak revolusinya.

Tidak jauh dari Ho Chi Minh Palace, terdapat universitas pertama di Vietnam bernama Temple Of Literature. Berjalan santai di sana sambil menikmati suasana hingga menemukan sebuah restoran di salah satu pojokan bernama KOTO (Know One Teach One) untuk makan siang. Setelah perut kenyang, saya melanjutkan hopping park menuju Lenin Park dengan menggunakan cyclo. Cyclo ini adalah sebutan untuk tuk-tuknya Vietnam. Di taman itu terdapat sebuah patung Lenin berukuran besar, saya kurang tau jasa apa yang sudah Lenin perbuat untuk kota ini. Tapi yah, patungnya di sana, jadi pasti cukup bermakna. Di seberang taman ini juga terdapat Flag Monument dan War Museum. Tapi karena sudah kehabisan tenaga, saya lebih memilih untuk nongkrong di salah satu kafe pinggir jalan buat minum kopi lagi dan lagi. Canggihnya dari kafe-kafe pinggir jalan ini adalah rata-rata menyediakan fasilitas wi-fi.

Selain kopi, makanan pinggir jalan yang wajib dicoba dan bikin ketagihan di kota Hanoi adalah Bun Bo dan Pho Bo. Kedua makanan ini sama-sama berkuah dan berbahan dasar mie, cuma beda jenis mie nya. Berdasarkan obrolan para traveler yang saya temui dan akhirnya jadi pengalaman saya sendiri, ada satu restoran yang sering mereka sebut bernama Quan An Ngon atau nama pendeknya Ngon. Makanan khas di restoran tersebut adalah Ca Cha La Vong, berbahan dasar ikan dan sayuran yang saya tidak tau namanya. Rasanya asin dan butuh beberapa saat buat beradaptasi di lidah. Tapi yang namanya makanan buat saya cuma ada dua kategori: enak dan enak banget. Jadi rasa yang agak aneh ya bukan masalah.

Untuk nightlifenya, sayang banget saya cuma sempat mencoba ke dua bar. Yang pertama bernama Avalon, terletak di lantai teratas sebuah gedung di depan persis halte bus danau Hoan Kiem. Dan yang kedua saya tidak ingat sama sekali namanya, berada di sebuah gang yang kesan dari luarnya sudah tutup jika jam sudah menunjukkan jam 11 malam, padahal masih buka dan di dalamnya penuh orang lagi pesta hahaha. Saya datang ke sana bersama seorang teman ekspat dan sepertinya tempat itu memang bar untuk hangout para ekspat. Dari dua tempat yang saya kunjungi, saya simpulkan bar-bar di Hanoi lebih cenderung tempat untuk chillin’ dan ngobrol, bukan bar dugem.

Sedikit tips untuk menyeberang jalan di Hanoi: Jangan lari! Jalan lurus ke depan dengan pelan tapi pasti. Motor-motor yang berlalu lalang memang tidak bakal berhenti pas kita menyeberang, tapi mereka bakal menghindar. Kalau menunggu jalanan sampai sepi, mungkin baru bisa menyebrang besok harinya.

 

Do you like this post? Share it please! #SharingisCaring

About Vieta

Vieta F. Diani. She claimed herself as a girl who can read the map. Currently she works in Jakarta and travel occasionally. She's dreaming of a future in which she gets paid to be funny while she cross the globe. Follow her on twiiter: @vforvieta or website: www.vforvieta.com

View all posts by Vieta →

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

1 + 6 =


A travel community supported by travelers in Indonesia and abroad. Sharing thoughts, ramblings and rants as travelers. Curated by Mariza Melia aka @iamMariza & friends.

Join us! Write your own travel tips and travel diaries. Exchange your knowledge and experiences with others. You may contact us via email to become one of our guest writers.
For travelers by travelers. As we travel around, we have made some networking with lots of people in tourism industry. They give us special discounts on accommodation, car rentals, travel packages etc and we would like to share this with you. Please support this blog by making any purchases on travel deals on LagunaTrip.com

Google+
Twitter: iammariza
Travel Talks on Twitter

RT @BittyMasruroh Bittyajah.com adalah pengembangan dari sebuah blog pribadi gue... Web bikinan adik sendiri nih... Lets be a writer... @iamMariza