Laguna Trip Blog Edition

Indonesia

Mengenal Sejarah Peranakan Tionghoa dari Museum Benteng Heritage

October 1, 2013 by IamMariza in Indonesia, Journal with 1 Comment

[google-translator]
Tau ga sih kalau Museum Peranakan pertama di Indonesia itu ada di daerah Tangerang? SAMA! Saya juga GAAAA TAAAU!

Mumpung ada teman yang dah pernah kesana, nih catpernya saya repost yah.

Tulisan kali ini mau cerita tentang sebuah museum yang gue, Fajar, Hola, Milla, Indah, Dee dan Declan kunjungi pekan lalu di sebuah daerah di Tangerang Kota, tepatnya daerah Pasar Lama Tangerang dekat dengan aliran sungai Cisadane, nama museumnya adalah Museum Benteng Heritage (MBH) yang merupakan Museum Peranakan pertama di Indonesia. Menarik kan ?? :D 

Minggu siang menjelang sore dengan menggunakan mobilnya Fajar mulai memasuki jalan raya Tangerang. Lalu lintas di Tangerang cukup bersahabat sore itu. Didepan mulai terlihat aliran Sungai Cisadane dengan bantaran sungai yang sudah sedemikian rupa dibuat cantik oleh pemerintah setempat. Pohon-pohon rindang menambah asri sungai yang berwarna cokelat keruh tersebut. Tak lama kami berhenti dan parkir karena menemukan plang Klenteng Boen Tek Bio (posisi MBH tak jauh dari klenteng tersebut).


Sambil menunggu rombongan mobil berikutnya, gue dan teman2 yang lain mengambil kesempatan untuk foto-foto di riverside Cisadane. Penampakannya ga beda jauh sama riverside di Pnom Penh, Kamboja sono deh .. *serius*. Surprisingly walaopun airnya coklat sampahnya nggak ada lo, keren yaaa, makin salut deh. Sore hari gini banyak penduduk setempat yang lagi mancing.


Begitu rombongan lengkap, kami langsung menuju ke MBH dengan melewati jalan setapak kurang lebih 200 meter menuju MBH. Sebelum menuju museum, kami harus melalui Klenteng Boen Tek Bio dan juga pasar yang sudah hampir sebagian besar tutup. Karena sudah menjelang jam 3, kami tidak mampir ke klenteng tapi langsung menuju museum. Bau amis pasar bercampur sampah membayangi perjalanan kami sampai ke museum. Siapa yang sangka ditengah hiruk pikuk pasar yang selalu rame terdapat bangunan dua lantai dengan nuansa Tionghoa kental. Untuk bisa ikutan tour MBH kami harus menunggu tepat jam 3 sore dengan seorang guide. Setelah membayar karcis kamipun langsung masuk ke dalam di guide oleh Wiwit. Salah satu syarat berkunjung ga boleh foto dan pegang-pegang barang museum, jadinya kami hanya puas dengan melihat-lihat sambil menyimpan dalam memori otak kami :D .


MBH dulunya sebuah rumah yang kemudian dibeli dan direstorasi oleh seorang Tionghoa peranakan bernama Udaya Halim yang adalah akamsi alias anak kampung sini. Karena pak Udaya sendiri lahir tidak jauh dari lokasi museum ini berdiri. Bangunan ini diperkirakan dibangun abad ke-17 yang kemudian mulai di restorasi pada tahun 2009 untuk dikembalikan ke bentuknya semula yang merupakan bangunan tradisional asli Tionghoa. Restorasi ini selesai dua tahun berikutnya yang kemudian diresmikan tanggal 11 November 2011 (kebetulan lihat prasastinya di depan rumah hehehhehe). Di lantai dasar kami dijelaskan tentang bangunan museum ini sendiri serta berbagai foto lukisan Pasar Lama.


Lanjut ke lantai dua kami harus melepas alas kaki untuk menjaga kebersihan dari museum tersebut. Di lantai dua kami menemukan benda-benda artefak yang berhubungan dengan sejarah peranakan Tionghoa di Indonesia, salah satunya adalah cerita Laksamana Ceng Ho dengan rombongan armadanya yang berjumlah sekitar 300 kapal dengan jumlah pengikut kurang lebih sekitar 30.000 orang. Ada sejarah bounded feet; kalo yang ini aga serem sih, karena wanita-wanita Tionghoa jaman dulu kakinya dibuat kecil, karena katanya semakin kecil semakin cantik, padahal modusnya wanita-wanita itu dikekang. Pada jamannya wanita-wanita tersebut tidak boleh keluar rumah. Kami juga melihat patung dewa-dewa orang cina, yang ternyata mereka awalnya juga seorang manusia. Tetapi karena bijaksana dan arif kemudian mereka dijadikan dewa *sumprit ini baru tau. Dari sini juga gue baru tau kalo bedug sebelum azan itu bukan kebudayaan dari Arab melainkan dari Cina. Pada saat itu, alat berkomunikasi yang paling bisa diandalkan di segala cuaca adalah dengan menggunakan genderang/tabuh/bedug. Disini juga kami ditunjukannya adat lengkap dari perkawinan peranakan Benteng.


Hampir satu jam kami berkeliling, diceritakan dan di-guide oleh Wiwit  ketika seseorang memanggil kami untuk masuk ke satu ruangan yang isinya membuat kami langsung menganga. Yak.. yang memanggil kami adalah sang pemilik Museum pak Udaya. Mau tau apa isi ruangan tersebut? Isinya adalah koleksi pribadi dari pak Udaya berupa kamera (dulu beliau seorang fotografer) dan gramophone serta vinyl recording dari jaman dulu kala. Surprisingly semuanya masih terawat dengan rapih. Disini kami berbicara banyak tentang sejarah peranakan Tionghoa di Indonesia dan juga sejarah kelam bangsa Indonesia. Selain cerita sejarah dab bercengkrama, kami juga bisa merasakan kejayaan musik-musik jaman dahulu kala yang abadi yang diputar memakai gramophone yang sudah berumur 100 tahun!!! Kalau menurut beliau tidak semua pengunjung bisa masuk ke ruang pribadi pak Udaya ini, makanya kami sungguh amat sangat beruntung bisa melihat koleksinya. Ga tau karena kami yang cerewet luar biasa yang pasti selesai kami berbincang hampir 1 jam lebih kami disuguhkan teh khusus diruangan bawah. Oh iya.. selain sebagai museum, MBH juga membuka restoran dengan menu peranakan. Salah satunya adalah Lontong Cap Gomehn ueenaakkk yang disediakan GRATIS buat kami semua hehehehe, kalo yang ini diluar kebiasaan. He said: you are all my VVIP guests *jadi terharu*


Di MBH juga ada souvenir untuk dibeli, kebetulan gue seperti yang lain beli Dodol buatan Ny. Lauw (ini enak banget udah gue coba dan udah abis ga sampe 2 hari >.<) dan juga kecap benteng yang terkenal karena enaknya, cuma tenggelam aja namanya dengan kecap2 merek lain. Buat gue, kunjungan ke MBH adalah sebuah pengalaman luar biasa yang pastinya menambah pengetahuan tentang keberadaan saudara-saudara peranakan Tionghoa di negeri Indonesia ini. Thank you for keeping the history Pak Udaya Halim. Salute for your passion! Udaya Halim : Culture is borderless. It is like water and air. It is nourishing the soul. It takes and gives. It blends to build a character of a nation and to preserve Bhinneka Tunggal Ika,” taken from Jakarta Post


Museum Benteng Heritage Jl. Cilame No. 20, Pasar Lama Tangerang Telpon: 445.445.29 Email: info@bentengheritage.com FB : https://www.facebook.com/bentengheritage Website: http://www.bentengheritage.com Jam Operasional: Selasa - Minggu, Senin Tutup Guided Tour : jam 13.00 - 18.00 Tour berlangsung selama 45 menit Jumlah peserta dibatasi 20 orang per tour HTM: Umum Rp 20.000 Pelajar Rp 10.000 Mahasiswa Rp 15.000 Orang Asing Rp 50.000 Heritage Walk Rp 50.000/orang (maksimal 10 orang)

Tuh keren juga kan sejarah museum yang satu ini. Kesana yuk? Ada yang mau bareng ga? hehe.

Kamu juga bisa follow Lia di Twitter @Lia_LT

Sumber artikel: http://lialt.blogspot.com/2013/09/mengenal-sejarah-peranakan-cina-dari.html

Tagged

Do you like this post? Share it please! #SharingisCaring

About IamMariza

Born in Surabaya and raised in Jakarta in a multicultural family, her parents introduced to her the world of traveling at a young age and has been addicted to backpacking since 2008, dumping her tourist status quo. She is the founder of lagunatrip.com. Follow her rants and ramblings about her life as a traveler on her Twitter: @iamMariza

View all posts by IamMariza →

Related Posts

One Comment

  1. cumilebay.comOct 31, 2013 at 5:37 amReply

    Cakep banget klenteng nya, perna diajak kesini tapi batal gara2 ujan :-( kayak nya mesti segera dilangsungkan

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

+ 10 = 11


A travel community supported by travelers in Indonesia and abroad. Sharing thoughts, ramblings and rants as travelers. Curated by Mariza Melia aka @iamMariza & friends.

Join us! Write your own travel tips and travel diaries. Exchange your knowledge and experiences with others. You may contact us via email to become one of our guest writers.
For travelers by travelers. As we travel around, we have made some networking with lots of people in tourism industry. They give us special discounts on accommodation, car rentals, travel packages etc and we would like to share this with you. Please support this blog by making any purchases on travel deals on LagunaTrip.com

Google+
Twitter: iammariza
Travel Talks on Twitter

RT @BittyMasruroh Bittyajah.com adalah pengembangan dari sebuah blog pribadi gue... Web bikinan adik sendiri nih... Lets be a writer... @iamMariza